Translate

Rabu, 03 Juni 2015

Analisa Kurikulum 2013

KURIKULUM 2013
Kurikulum 2013 lahir dilandasi dengan berbagai fenomena di masyarakat. Diantaranya, kemajuan teknologi informasi, masalah globalisasi, merosotnya moral dikalangan pelajar seperti perkelahian pelajar, narkoba, kecurangan dalam ujian, dan pandangan masyarakat yang menganggap pendidikan menitikberatkan aspek kognitif serta beban siswa dalam menerima pelajaran pun terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran. Selain itu juga, kurangnya muatan pendidikan karakter siswa juga menjadi faktor utama munculnya kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga Negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Konsep kurikulum 2013 menekankan pada aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio saling melengkapi.
Membaca pemaparan standar proses, standar isi, dan pedoman implementasi kurikulum 2013 tampaklah bahwa teori belajar konstruktivisme mendominasi pendekatan dan metode pembelajaran yang dinyatakan sebagai pendekatan ilmiah. Namun kurikulum 2013 juga tidak lepas dari pendekatan behavorisme dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Pendekatan teori belajar behaviorisme dalam kurikulum 2013 digunakan dalam kegiatan pendahuluan dan penutup proses pembelajaran, sedangkan untuk kegiatan inti pembelajaran didominasi dengan teori belajar konstruktivisme.
Melalui konsep 5 M, siswa dididik untuk dapat mencari sendiri informasi, menemukan, menyampaikan pendapat di depan kelas, mengevaluasi, dan menarik kesimpulan secara aktif dan mandiri. Dengan begitu, kurikulum ini juga kembali mengajak anak-anak untuk membudayakan membaca, salah satu kebiasaan yang mulai menurun pada generasi saat ini.
Dalam kurikulum 2013, sikap siswa di dalam kelas juga termasuk salah satu aspek yang dinilai. Karena itu penerapan kurikulum 2013 juga memiliki tujuan yang baik yaitu mendorong anak untuk memiliki sikap yang lebih baik di sekolah, pada teman sejawat, dan terhadap lingkungannya.
Salah satunya adalah sistem penilaian yang dinilai guru terlalu rumit. Dalam kurikulum 2013, guru harus melakukan tiga set penilaian terhadap siswa, antara lain penilaian sikap, penilaian kognitif, dan penilaian keterampilan.
Masing-masing set penilaian masih dijabarkan lebih banyak, misalkan set penilaian sikap yang terdiri atas penilaian observasi (kedisiplinan, kejujuran, peduli lingkungan, dsb), penilaian diri, penilaian teman sejawat, dan penilaian jurnal. Sistem penilaian yang banyak dan rumit tersebut harus diterapkan guru pada masing-masing siswa, per mata pelajaran, dan per kompetensi dasar.

Tujuan Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga Negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

Karakteristik Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:
1.        Mengembangkan keseimbangan anatara pengembangan sikap spiritual dan social, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik.
2.       Sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari disekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagi sumber belajar.
3.       Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi disekolah dan masyarakat.
4.   Memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
5.    Kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar pelajaran.
6.        Kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyakan dalam kompetensi inti.
7.   Kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertical).

Struktur Umum Kurikulum 2013
Struktur kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran, beban belajar, dan kalender pendidikan. Mata pelajaran terdiri atas:
·              Mata pelajaran wajib diikuti oleh seluruh peserta didik di satu satuan pendidikan pada setiap satuan atau jenjang pendidikan
·              Mata  pelajaran pilihan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan pilihan mereka.

Model kurikulum 2013 menunjukkan bahwa pada tingkat pendidikan dasar lebih Integrated dan Correlated yang lebih sesuai dengan fundamen dan esensi pendidikan dasar sebagai basic/fundamental education. Sedangkan pada tingkat pendidikan menengah melakukan separated yang menuju spesialisasi. Hal ini yang membuat kurikulum 2013 mendatangkan hal-hal yang baru seperti pembelajaran tematik integrative pada SD, tidak adanya istilah mata pelajaran IPA dan IPS di SD serta memberikan keringanan pada guru yang tidak perlu menyusun Silabus dan RPP yang dikarenakan akan disiapkan buku babon (buku pokok) oleh Kemendikbud. Kemudian juga adanya penerapan SKS pada sekolah menengah berkategori mandiri.

Kelebihan Kurikulum 2013:

  • Perubahan proses pembelajaran (dari siswa diberi tahu mencari tahu) dan proses penilaian (dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output) yang memerlukan penambahan jam pelajaran 
  • Mewujudkan sosok KTSP Subtantif: pendidikan berbasis kebutuhan dan potensi lokal(muatan lokal diwadahi Kurda, hidden curiculum yang diakomodasi dalam kepramukaan, KSR, UKS. Kegiatan ekstrakurikuler dilakukan di masyarakat, alam dan sekolah). 
  • Kurikulum 2013 ini bertujuan untuk memberikan pendidikan jiwa dan raga secara implementatif serta bertujuan untuk keberhasilan siswa di bidang ilmu pengetahuan sertaberkarakter mulia dan berwawasan kebangsaan secara Nasional.

Kekurangan kurikulum 2013:
  • Kurikulum 2013 sebagai ajang proyek pencitraan Kemendikbud diakhir kepengurusan dengan meningkatkan hasil kinerja yang mempu memberikan solusi terhadap permasalahan di dalam dunia pendidikan. 
  • Kurikulum 2013 dinilai produk instan dengan melakukan sosialisasi waktu yang relatif singkat serta tidak adanya evaluasi-akademik terhadap kurikulum sebelumnya secara signifikan. Selain itu juga perubahan kurikulum di luar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Serta bertentangan dengan PP No. 19 tahun2005 mengenai standar nasional pendidikan. 
  • Kurikulum 2013 dinilai sebagai ladang ‘korupsi’. Dikarenakan anggaran kurikulum ini meningkat drastis dari 684,4 Miliar menjadi 2,49 Triliun. Anggaran kurikulum 2013 ini salah satunya akan digunakan untuk pembuatan buku babon (buku pokok) yang disusun mepet dan juga pelatihan untuk guru inti dan guru massal 52 jam pertemuan yang setara 5 hari. 
  • Kurikulum 2013 ini membuat ketidakpercayaan terhadap guru dengan disediakannya silabus dan buku babon. Guru hanya menjadi ‘operator’ mengajar bukan mendidik.




Rabu, 20 Mei 2015

Resensi "Belajar Aktif dengan Otak Teraktif"

Judul Buku                  : Belajar Aktif dengan Otak Teraktif
Penulis                         : Mamanto Fani
Jumlah Halaman          : (iv + 163 halaman)
Penerbit                       : Gramata Publishing
Tahun Terbit                : 2014

Satu hal yang hingga saat ini dicari oleh para pembelajar, terutama mereka yang tengah menempuh pembelajaran di jenjang pendidikan formal adalah bagaimana formulasi belajar efektif yang pas bagi diri sendiri.
Tantangan dan beban belajar semakin berat. Persaingan untuk berprestasi dalam belajar dan dalam hidup pun semakin ketat. Semua tantangan itu membutuhkan solusi, yaitu bagaimana metode belajar yang efektif bagi setiap orang yang belajar dan bagaimana pula agar proses belajar itu harus dijalani dengan penuh kesenangan. Sehingga, si pembelajar tidak malas, tidak bosan, bahkan sebaliknya menjadi ketagihan belajar.
Dalam konteks belajar metode belajar terbaik adalah bila metode itu bersesuaian dengan potensi terbaik yang dimiliki seseorang. Potensi terbaik di sini adalah kecerdasan atau bakat alami yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada setiap orang. Pada perkembangan ilmiah tentang penemuan bakat alami dan kepribadian seseorang, di Indonesia sekarang sudah ditemukan konsep STIFIn bersama finger print test-nya. Sebuah konsep yang merupakan sintesa dari berbagai teori tentang kecerdasan dan kepribadian untuk menemukan secara simple dan akurat jenis kecerdasan dan kepribadian seseorang.
STIFIn yang beraliran Jungian mengelompokkan semua orang di atas dunia ke dalam lima jenis kecerdasan, yaitu Sensing (S), Thinking (T), Intuiting (I), Feeling (F), dan Insting (In). STIFIn mengelompokkan jenis kepribadian menjadi sembilan jenis kepribadian genetic yaitu, Sensing introvert (Si), Sensing ekstrovert (Se), Thinking introvert (Ti), Thingking ekstrovert, Intuiting introvert (Ii), Intuiting ekstrovert, Feeling introvert (Fi), Feeling ekstrovert (Fe) serta Insting (In). Dalam konsep STIFIn, semua jenis kecerdasan dan kepribadian itu berpengaruh langsung dalam kehidupan seseorang yang oleh karenanya pula harus diaplikasikan dalam berbagai hal kehidupan.
Konsep STIFIn meletakkan lima kecerdasan itu pada dimensi personalitas yang merupakan dasar seseorang yang belum diapa-apakan. Masing-masing tipe kecerdasan memiliki jalannya sendiri untuk sampai ke dimensi paling tinggi, yakni spiritualitas (Personalitas, Mentalitas, Moralitas, Spritualitas).  
Dalam konsep STIFIn, kepribadian terbentuk dari bertemunya kecerdasan dengan apa yang disebut sebagai kemudi; Introvert (i) dan ekstrovert (e), sedangkan jenis kendaraannya adalah mesin kecerdasan. Fungsi dominan otak mereka yang introvert ada di sebelah dalam, sedangkan ekstrovert ada di sebelah luar. Seseorang berkepribadian introvert lebih cenderung termotivasi oleh hukuman, sedangkan mereka yang ekstrovert lebih mudah termotivasi oleh hadiah. Itu kalau dilihat dari sisi motivasinya.


Belajar dengan bakat alami

Ketika Anda sudah mengetahui bakat alami, Anda sudah langsung dapat mengetahui cara belajar apa yang paling pas untuk pribadi seperti Anda untuk dilaksanakan.
Gaya belajar orang Sensing adalah dengan mencontoh, yang berarti memaksimalkan kapasitas memorinya dan kehebatan pancainderanya. Oleh karena itu, cara belajar yang pas adalah dengan mencontoh apa yang ditangkap pancainderanya sedetail mungkin, kemudian menyimpan di dalam memorinya yang daya ingatnya di atas rata-rata.
Gaya belajar orang Tinking dengan menganalisa. Maksudnya adalah dengan melihat cara kerja, durasi, hasil dan sebagainya. Dengan menganalisa, merumuskan dan menalarkan, ilmu dan informasi yang didapat akan tersimpan di dalam otaknya.
Gaya belajar orang Intuiting adalah dengan mencari ide dan pola. Orang Intuiting senang membaca berbagai referensi, baik cetak maupun visual seperti slide. orang Intuiting mencari pola atau kesamaan dari semua informasi, sehingga dia bisa menyimpulkan benang merah yang sedang dipelajarinya. Informasi yang menancap atau tersimpan di kepalanya dapat dikembangkan lebih detail lagi.
Gaya belajar orang Feeling adalah dengan melalui orang. Maksudnya, orang Feeling membutuhkan mediator pembelajaran untuk menyerap ilmu berupa orang. Pendengaran dan interaksi interpersonalnya membuat proses belajarnya lebih mudah.
Gaya belajar orang Insting adalah dengan merespon secara cepat dan merangkum. Sebenarnya orang insting bisa belajar memakai gaya belajar semua mesin kecerdasan. Maka bagi orang insting, temukan intinya, rangkum semua masalah baru kemudian dirinci ke pengkal permasalahan yang sedang dipelajarinya.

Kelebihan
Buku ini mempunyai judul yang sangat menarik bagi pembaca karena singkat tetapi padat dalam makna. Buku ini juga memiliki pem­visual-an yang cukup menarik, sehingga banyak menarik minat pembaca terutama yang masih usia muda atau pelajar.
Buku ini menjelaskan bahwa setiap manusia dilahirkan dengan kekhassan masing-masing. Dan setiap manusia mempunyai bakat alami dalam belajar sehingga setiap seseorang mempunyai gaya belajar sendiri sesuai bakat masing-masing individu.
Buku ini juga menjelaskan bahwa otak teraktif adalah bakat alami kita. Jika kita belajar dengan bakat alami atau metode belajar yang kita gunakan sesuai dengan bakat alami kita maka hasil belajar kita akan memuaskan. Karena untuk belajar yang enjoy, untuk belajar yang terus bertumbuh, untuk belajar yang mngantarkan kepada keahlian, untuk belajar yang penuh cinta dan belajar sepenuh hati, kata kuncinya adalah belajarlah dengan bakat alami atau otak teraktif.
Di dalam buku ini tertulis bahwa, berdasarkan teori belahan otak dari seorang neorosaintis (Ned Herman), otak terdiri dari neokortek kiri, limbic  kiri, neokortek kanan, limbic kanan plus satu bagian, yaitu otak tengah. Diantara bagian-bagian otak ini terdapat satu belahan atau bagian yang paling aktif dan mendominasi dari bagian yang lain. Bahkan juga dalam melakukan aktivitasnya, ada bagian otak yang memimpin bagian otak yang lain. Bagian itu pula memunculkan kekhassan diri Anda dari orang lain.
Buku ini menawarkan sebuah konsep formulasi pembelajaran tentang penemuan bakat alami dan kepribadian seseorang yang disebut konsep STIFIn. Sebuah konsep yang merupakan sintesa dari berbagai teori tentang kecerdasan dan kepribadian untuk menemukan secara simple dan akurat jenis kecerdasan dan kepribadian seseorang.
STIFIn adalah penyederhanaan dari bagian otak teraktif yang titik tolak awalnya adalah teori Carl Gustav Jung yang kemudian disempurnakan oleh Farid Poniman sebagai penemu STIFIn dengan satu bagian lagi, yaitu In (Insting). STIFIn yang beraliran Jungian ini mengelompokkan jenis kecerdasan dalam lima jenis kecerdasan yaitu; S (Sensing) mewakili limbic kiri sebagai bagian otak teraktif, T (Thinking) mewakili neokortek kiri sebagai bagian otak teraktif, I (Intuiting) mewakili neokortek kanan sebagai bagian otak teraktif, F (Feeling) mewakili limbic kanan sebagai bagian otak teraktif, dan In (Insting) mewakili midbrain (otak tengah) sebagai otak teraktif. STIFIn mengelompokkan jenis kepribadian menjadi sembilan jenis kepribadian genetic yaitu, Sensing introvert (Si), Sensing ekstrovert (Se), Thinking introvert (Ti), Thingking ekstrovert, Intuiting introvert (Ii), Intuiting ekstrovert, Feeling introvert (Fi), Feeling ekstrovert (Fe) serta Insting (In). Dalam konsep STIFIn, semua jenis kecerdasan dan kepribadian itu berpengaruh langsung dalam kehidupan seseorang yang oleh karenanya pula harus diaplikasikan dalam berbagai hal kehidupan.


Kelemahan
Berdasarkan yang termuat dalam buku ini, meskipun konsep yang dipaparkan sangat bagus akan tetapi prosentasi keberhasilan konsep STIFIn ini tidak dipaparkan semua, sehingga pembaca masih meragukan tingkat keakuratan konsep STIFIn dalam menemukan secara simple kecerdasan dan kepribadian seseorang. Sebaiknya data yang dimasukkan cukup rinci sehingga pembaca yakin untuk menerapkan konsep formulasi belajar STIFIn.

Profil Penulis
Mamanto Fani adalah seorang trainer, writer dan inspirator certified NNLP Practitioner, licensed STIFIn promoter dan alumni Akademi Trainer besutan Inspirator Sukses Mulia Jamil Azzaini. Pria kelahiran Pematang Panjang, Sumatera Barat, 28 November 1980 ini menempuh pendidikan formal strata satu (S-1) di Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang dan (S-2) di program Magister Manajemen Uiversitas Negeri Padang ( belum selesai ).
Sejak tahun 2002, anak ketiga dari pasangan Sultan Fakhrudin (alm) dan Yuslini ini sudah aktif menulis di media masa dan tahun 2009 menerbitkan buku. Merintis aktivitas sebagai pembicara berbagai tema di berbagai tempat, seperti perusahaan, organisasi mahasiswa, pelajar pada bidang pengembangan diri, keorganisasian dan pemberdayaan masyarakat. Pada tahun 2006 ikut mendirikan dan bergabung pada Abdurrahman Bin Auf Leadership & Entrepreneurship Center di Pekanbaru.
Pada tahun 2009 penulis menikah dengan kekasih hatinya, Ns. Vesdiana, S.Kep. Hingga kini sudah dikarunia 2 orang putrid dan 1 orang putra. Ketiga buah hatinya adalah Delila Tsurayya Mantofani, Rodhia Adiva Mantofani dan Muhammad Gathfan Mantofani.
Dalam organisasi mahasiswa dan kepemudaan, Maman pernah menjadi Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Sumatera Barat tahun 2003-2004 dan ketua Biro Pengembangan Organisasi PP KAMMI tahun 2004-2006. Penulis juga pernah menjadi pengurus KNPI Sumatera Barat Periode 2010-2013. Pada tahun 2009 Mamanto Fani merintis karir politik dan menjadi anggota DPRD Kabupaten Sijunjung periode 2009-2014.
Pada tahun 2011 Maman memperdalam ilmu parenting dengan mengikuti program sekolah pengasuhan anak (PSPA) di Bandung dan juga mengikuti program disiplin anak (PDA) sebagai lanjutan di Auladi Parenting Schools.
Di dunia trainer, Mamanto juga aktif meningkatkan keahlian training di Akademi Trainer. Ia mengikuti Trainer For Trainers (TFT) dan Workshop STIFIn Level (WSL) 1 dan (WSL) 2 di Jakarta. Maman juga ikut mendalami STIFIn Tematik, terutama STIFIn Parenting, STIFIn Learning dan Profession yang diselenggarakan oleh KUBIK. Sedangkan, di Akademi Trainer Maman mengikuti program Trainer Bootcamp & Contest (TBnC) di Bogor. Dia juga tergabung sebagai member Gold di Trainerlaris.com
Dalam mengoptimalkan perannya di dunia training dan ikut aktif mengispirasi Indonesia, penulis buku “Hidup Sekali Mesti Berarti” Ini mendirikan lembaga pelatihan Manusia Juara Learning Center Sijunjung dan mengembangkan HAMKAMUDA Training & Consulting Center. Dia juga mendirikan Rumah Pintar Manusia Juara. Tulisan-tulisannya pernah di muat di Majalah Sabili, Annida, Koran Sindo, Media Indonesia, Harian Singgalang, Padang Ekspres, Metro Riau dan lain-lain.
Hingga kini Maman terus aktif sebagai Trainer dan Inspirator dengan menjadi public speaking di berbagai tempat. Mulai dari kampong halamannya Sijunjung, Kota Sawahlunto, Padang, Pekanbaru, Lombok, Jakarta dan kota-kota lainnya. Dia bertekad berperan aktif menginspirasi Indonesia dengan lisan dan tulisan.


Rabu, 13 Mei 2015

Teori Belajar Humanisme



Teori Belajar Pendekatan Humanisme
Teori belajar adalah seperangkat pernyataan umum yang digunakan untuk menjelaskan kenyataan mengenai belajar. Aplikasi teori belajar dalam situasi pembelajaran membutuhkan kejelian dan kecermatan guru untuk menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam teori belajar.
Konsep teori belajar Humanistik yaitu proses memanusiakan manusia, dimana seorang individu diharapkan dapat mengaktualisasikan diri artinya manusia dapat menggali kemampuannya sendiri untuk diterapkan dalam lingkungan. Proses belajar Humanistik memusatkan perhatian kepada diri peserta didik sehingga menitikberatkan kepada kebebasan individu. Teori Humanistik menekankan kognitif dan afektif memengaruhi proses. Kognitif adalah aspek penguasaan ilmu pengetahuan sedangkan afektif adalah aspek sikap yang keduanya perlu dikembangkan dalam membangun individu. Belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Hal yang penting lagi pada proses pembelajaran Humanisme harus adanya motivasi yang diberikan agar peserta didik dapat terus menjalani pembelajaran dengan baik. Motivasi dapat berasal dari dalam yaitu berasal dari diri sendiri, maupun dari guru sebagai fasilitator.

A.     Ciri-ciri Teori Humanisme
Pendekatan humanisme dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika siswa memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Ada salah satu ide penting dalam teori belajar humanisme yaitu siswa harusmampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa mengetahui apa yang dipelajarinya serta tahu seberapa besar siswa tersebut dapat memahaminya. Dan juga siswa dapat mengetahui mana, kapan, dan bagaimana mereka akan belajar. Dengan demikian maka siswa diharapkan mendapat manfaat dan kegunaan dari hasil belajar bagi dirinya sendiri. Aliran humanisme memandang belajar sebagai sebuah proses yang terjadi dalam individu yang meliputi bagian/domain yang ada yaitu dapat meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dengan kata lain, pendekatan humanisme menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap siswa. Untuk itu, metode pembelajaran humanistik mengarah pada upaya untuk mengasah nilai-nilai kemanusiaan siswa. Sehingga para pendidik/guru diharapkan dalam pembelajaran lebih menekankan nilai-nilai kerjasama, saling membantu, dan menguntungkan, kejujuran dan kreativitas untuk diaplikasikan dalam proses pembelajaran sehingga menghasilkan suatu proses pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tujuan dan hasil belajar yang dicapai siswa.
B.     Tokoh Humanisme
Ada beberapa pendapat para ahli mengenai teori belajar huamanisme yaitu diantaranya :
1. Arthur Combs (1912-1999)
Arthur Combs bersama dengan Donald Syngg menyatakan bahwa belajar terjadi apabila mempunyai arti bagi individu tersebut. Artinya bahwa dalam kegiatan pembelajaran guru tidak boleh memaksakan materi yang tidak disukai oleh siswa. Sehingga siswa belajar sesuai dengan apa yang diinginkan tanpa adanya paksaan sedikit pun. Sebenarnya hal tersebut terjadi tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesautu yang tidak akan memberikan kepuasan bagi dirinya.
Sehingga guru harus lebih memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa diri siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
2. Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal: suatu usaha yang positif untuk berkembang; kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri.
Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.
3. Carl Roger
Seorang psikolog humanism yang menekankan perlunya sikap salaing menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalahkehidupannya. Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran.
Ada beberapa Asumsi dasar teori Rogers adalah: Kecenderungan formatif; Segala hal di dunia baik organik maupun non-organik tersusun dari hal-hal yang lebih kecil; Kecenderungan aktualisasi; Kecenderungan setiap makhluk hidup untuk bergerak menuju ke kesempurnaan atau pemenuhan potensial dirinya. Tiap individual mempunyai kekuatan yang kreatif untuk menyelesaikan masalahnya.

C.     Aplikasi dan Implikasi Humanisme

Implikasi Teori Belajar Humanistik
a. Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa (petunjuk):
1.      Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2.      Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3.      Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4.      Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5.      Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6.      Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7.      Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8.      Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa


Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. 
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. 
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1.      Merumuskan tujuan belajar yang jelas
2.      Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
3.      Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
4.      Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
5.      Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
6.      Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7.      Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
8.      Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa 
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. 
Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
D.     Kelebihan dan kekurangan Teori Humanistik
a)      Kelebihan :
·         Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
·         Siswa merasa senang, berinisiatif dalam belajar.
·         Guru menerima siswa apa adanya,memahami jalan pikiran siswa.
·         Siswa mempunyai banyak pengalaman yang berarti.
·         Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri; membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
·         Indikator dari keberhasilan aplikasi ini ialah siswa merasa senang dan bergairah.
·         Terjadinya perubahan pola pikir.
·         Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara tanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang-orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin, atau etika yang berlaku.
·         Siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisai diri dengan sebaik-baiknya.

b)      Kekurangan :
·         Bersifat individual.
·         Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung.
·         Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis.
·         Peserta didik kesulitan dalam mengenal diri dan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.
·         Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar.
·         Siswa tidak aktif dan malas belajar akan merugikan diri sendiri dalam proses belajar.
·         Peran guru dalam proses pembentukan dan pendewasaan kepribadian siswa menjadi berkurang.
·         Keberhasilan proses belajar lebih banyak ditentukan oleh siswa itu sendiri.