Translate

Rabu, 20 Mei 2015

Resensi "Belajar Aktif dengan Otak Teraktif"

Judul Buku                  : Belajar Aktif dengan Otak Teraktif
Penulis                         : Mamanto Fani
Jumlah Halaman          : (iv + 163 halaman)
Penerbit                       : Gramata Publishing
Tahun Terbit                : 2014

Satu hal yang hingga saat ini dicari oleh para pembelajar, terutama mereka yang tengah menempuh pembelajaran di jenjang pendidikan formal adalah bagaimana formulasi belajar efektif yang pas bagi diri sendiri.
Tantangan dan beban belajar semakin berat. Persaingan untuk berprestasi dalam belajar dan dalam hidup pun semakin ketat. Semua tantangan itu membutuhkan solusi, yaitu bagaimana metode belajar yang efektif bagi setiap orang yang belajar dan bagaimana pula agar proses belajar itu harus dijalani dengan penuh kesenangan. Sehingga, si pembelajar tidak malas, tidak bosan, bahkan sebaliknya menjadi ketagihan belajar.
Dalam konteks belajar metode belajar terbaik adalah bila metode itu bersesuaian dengan potensi terbaik yang dimiliki seseorang. Potensi terbaik di sini adalah kecerdasan atau bakat alami yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada setiap orang. Pada perkembangan ilmiah tentang penemuan bakat alami dan kepribadian seseorang, di Indonesia sekarang sudah ditemukan konsep STIFIn bersama finger print test-nya. Sebuah konsep yang merupakan sintesa dari berbagai teori tentang kecerdasan dan kepribadian untuk menemukan secara simple dan akurat jenis kecerdasan dan kepribadian seseorang.
STIFIn yang beraliran Jungian mengelompokkan semua orang di atas dunia ke dalam lima jenis kecerdasan, yaitu Sensing (S), Thinking (T), Intuiting (I), Feeling (F), dan Insting (In). STIFIn mengelompokkan jenis kepribadian menjadi sembilan jenis kepribadian genetic yaitu, Sensing introvert (Si), Sensing ekstrovert (Se), Thinking introvert (Ti), Thingking ekstrovert, Intuiting introvert (Ii), Intuiting ekstrovert, Feeling introvert (Fi), Feeling ekstrovert (Fe) serta Insting (In). Dalam konsep STIFIn, semua jenis kecerdasan dan kepribadian itu berpengaruh langsung dalam kehidupan seseorang yang oleh karenanya pula harus diaplikasikan dalam berbagai hal kehidupan.
Konsep STIFIn meletakkan lima kecerdasan itu pada dimensi personalitas yang merupakan dasar seseorang yang belum diapa-apakan. Masing-masing tipe kecerdasan memiliki jalannya sendiri untuk sampai ke dimensi paling tinggi, yakni spiritualitas (Personalitas, Mentalitas, Moralitas, Spritualitas).  
Dalam konsep STIFIn, kepribadian terbentuk dari bertemunya kecerdasan dengan apa yang disebut sebagai kemudi; Introvert (i) dan ekstrovert (e), sedangkan jenis kendaraannya adalah mesin kecerdasan. Fungsi dominan otak mereka yang introvert ada di sebelah dalam, sedangkan ekstrovert ada di sebelah luar. Seseorang berkepribadian introvert lebih cenderung termotivasi oleh hukuman, sedangkan mereka yang ekstrovert lebih mudah termotivasi oleh hadiah. Itu kalau dilihat dari sisi motivasinya.


Belajar dengan bakat alami

Ketika Anda sudah mengetahui bakat alami, Anda sudah langsung dapat mengetahui cara belajar apa yang paling pas untuk pribadi seperti Anda untuk dilaksanakan.
Gaya belajar orang Sensing adalah dengan mencontoh, yang berarti memaksimalkan kapasitas memorinya dan kehebatan pancainderanya. Oleh karena itu, cara belajar yang pas adalah dengan mencontoh apa yang ditangkap pancainderanya sedetail mungkin, kemudian menyimpan di dalam memorinya yang daya ingatnya di atas rata-rata.
Gaya belajar orang Tinking dengan menganalisa. Maksudnya adalah dengan melihat cara kerja, durasi, hasil dan sebagainya. Dengan menganalisa, merumuskan dan menalarkan, ilmu dan informasi yang didapat akan tersimpan di dalam otaknya.
Gaya belajar orang Intuiting adalah dengan mencari ide dan pola. Orang Intuiting senang membaca berbagai referensi, baik cetak maupun visual seperti slide. orang Intuiting mencari pola atau kesamaan dari semua informasi, sehingga dia bisa menyimpulkan benang merah yang sedang dipelajarinya. Informasi yang menancap atau tersimpan di kepalanya dapat dikembangkan lebih detail lagi.
Gaya belajar orang Feeling adalah dengan melalui orang. Maksudnya, orang Feeling membutuhkan mediator pembelajaran untuk menyerap ilmu berupa orang. Pendengaran dan interaksi interpersonalnya membuat proses belajarnya lebih mudah.
Gaya belajar orang Insting adalah dengan merespon secara cepat dan merangkum. Sebenarnya orang insting bisa belajar memakai gaya belajar semua mesin kecerdasan. Maka bagi orang insting, temukan intinya, rangkum semua masalah baru kemudian dirinci ke pengkal permasalahan yang sedang dipelajarinya.

Kelebihan
Buku ini mempunyai judul yang sangat menarik bagi pembaca karena singkat tetapi padat dalam makna. Buku ini juga memiliki pem­visual-an yang cukup menarik, sehingga banyak menarik minat pembaca terutama yang masih usia muda atau pelajar.
Buku ini menjelaskan bahwa setiap manusia dilahirkan dengan kekhassan masing-masing. Dan setiap manusia mempunyai bakat alami dalam belajar sehingga setiap seseorang mempunyai gaya belajar sendiri sesuai bakat masing-masing individu.
Buku ini juga menjelaskan bahwa otak teraktif adalah bakat alami kita. Jika kita belajar dengan bakat alami atau metode belajar yang kita gunakan sesuai dengan bakat alami kita maka hasil belajar kita akan memuaskan. Karena untuk belajar yang enjoy, untuk belajar yang terus bertumbuh, untuk belajar yang mngantarkan kepada keahlian, untuk belajar yang penuh cinta dan belajar sepenuh hati, kata kuncinya adalah belajarlah dengan bakat alami atau otak teraktif.
Di dalam buku ini tertulis bahwa, berdasarkan teori belahan otak dari seorang neorosaintis (Ned Herman), otak terdiri dari neokortek kiri, limbic  kiri, neokortek kanan, limbic kanan plus satu bagian, yaitu otak tengah. Diantara bagian-bagian otak ini terdapat satu belahan atau bagian yang paling aktif dan mendominasi dari bagian yang lain. Bahkan juga dalam melakukan aktivitasnya, ada bagian otak yang memimpin bagian otak yang lain. Bagian itu pula memunculkan kekhassan diri Anda dari orang lain.
Buku ini menawarkan sebuah konsep formulasi pembelajaran tentang penemuan bakat alami dan kepribadian seseorang yang disebut konsep STIFIn. Sebuah konsep yang merupakan sintesa dari berbagai teori tentang kecerdasan dan kepribadian untuk menemukan secara simple dan akurat jenis kecerdasan dan kepribadian seseorang.
STIFIn adalah penyederhanaan dari bagian otak teraktif yang titik tolak awalnya adalah teori Carl Gustav Jung yang kemudian disempurnakan oleh Farid Poniman sebagai penemu STIFIn dengan satu bagian lagi, yaitu In (Insting). STIFIn yang beraliran Jungian ini mengelompokkan jenis kecerdasan dalam lima jenis kecerdasan yaitu; S (Sensing) mewakili limbic kiri sebagai bagian otak teraktif, T (Thinking) mewakili neokortek kiri sebagai bagian otak teraktif, I (Intuiting) mewakili neokortek kanan sebagai bagian otak teraktif, F (Feeling) mewakili limbic kanan sebagai bagian otak teraktif, dan In (Insting) mewakili midbrain (otak tengah) sebagai otak teraktif. STIFIn mengelompokkan jenis kepribadian menjadi sembilan jenis kepribadian genetic yaitu, Sensing introvert (Si), Sensing ekstrovert (Se), Thinking introvert (Ti), Thingking ekstrovert, Intuiting introvert (Ii), Intuiting ekstrovert, Feeling introvert (Fi), Feeling ekstrovert (Fe) serta Insting (In). Dalam konsep STIFIn, semua jenis kecerdasan dan kepribadian itu berpengaruh langsung dalam kehidupan seseorang yang oleh karenanya pula harus diaplikasikan dalam berbagai hal kehidupan.


Kelemahan
Berdasarkan yang termuat dalam buku ini, meskipun konsep yang dipaparkan sangat bagus akan tetapi prosentasi keberhasilan konsep STIFIn ini tidak dipaparkan semua, sehingga pembaca masih meragukan tingkat keakuratan konsep STIFIn dalam menemukan secara simple kecerdasan dan kepribadian seseorang. Sebaiknya data yang dimasukkan cukup rinci sehingga pembaca yakin untuk menerapkan konsep formulasi belajar STIFIn.

Profil Penulis
Mamanto Fani adalah seorang trainer, writer dan inspirator certified NNLP Practitioner, licensed STIFIn promoter dan alumni Akademi Trainer besutan Inspirator Sukses Mulia Jamil Azzaini. Pria kelahiran Pematang Panjang, Sumatera Barat, 28 November 1980 ini menempuh pendidikan formal strata satu (S-1) di Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang dan (S-2) di program Magister Manajemen Uiversitas Negeri Padang ( belum selesai ).
Sejak tahun 2002, anak ketiga dari pasangan Sultan Fakhrudin (alm) dan Yuslini ini sudah aktif menulis di media masa dan tahun 2009 menerbitkan buku. Merintis aktivitas sebagai pembicara berbagai tema di berbagai tempat, seperti perusahaan, organisasi mahasiswa, pelajar pada bidang pengembangan diri, keorganisasian dan pemberdayaan masyarakat. Pada tahun 2006 ikut mendirikan dan bergabung pada Abdurrahman Bin Auf Leadership & Entrepreneurship Center di Pekanbaru.
Pada tahun 2009 penulis menikah dengan kekasih hatinya, Ns. Vesdiana, S.Kep. Hingga kini sudah dikarunia 2 orang putrid dan 1 orang putra. Ketiga buah hatinya adalah Delila Tsurayya Mantofani, Rodhia Adiva Mantofani dan Muhammad Gathfan Mantofani.
Dalam organisasi mahasiswa dan kepemudaan, Maman pernah menjadi Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Sumatera Barat tahun 2003-2004 dan ketua Biro Pengembangan Organisasi PP KAMMI tahun 2004-2006. Penulis juga pernah menjadi pengurus KNPI Sumatera Barat Periode 2010-2013. Pada tahun 2009 Mamanto Fani merintis karir politik dan menjadi anggota DPRD Kabupaten Sijunjung periode 2009-2014.
Pada tahun 2011 Maman memperdalam ilmu parenting dengan mengikuti program sekolah pengasuhan anak (PSPA) di Bandung dan juga mengikuti program disiplin anak (PDA) sebagai lanjutan di Auladi Parenting Schools.
Di dunia trainer, Mamanto juga aktif meningkatkan keahlian training di Akademi Trainer. Ia mengikuti Trainer For Trainers (TFT) dan Workshop STIFIn Level (WSL) 1 dan (WSL) 2 di Jakarta. Maman juga ikut mendalami STIFIn Tematik, terutama STIFIn Parenting, STIFIn Learning dan Profession yang diselenggarakan oleh KUBIK. Sedangkan, di Akademi Trainer Maman mengikuti program Trainer Bootcamp & Contest (TBnC) di Bogor. Dia juga tergabung sebagai member Gold di Trainerlaris.com
Dalam mengoptimalkan perannya di dunia training dan ikut aktif mengispirasi Indonesia, penulis buku “Hidup Sekali Mesti Berarti” Ini mendirikan lembaga pelatihan Manusia Juara Learning Center Sijunjung dan mengembangkan HAMKAMUDA Training & Consulting Center. Dia juga mendirikan Rumah Pintar Manusia Juara. Tulisan-tulisannya pernah di muat di Majalah Sabili, Annida, Koran Sindo, Media Indonesia, Harian Singgalang, Padang Ekspres, Metro Riau dan lain-lain.
Hingga kini Maman terus aktif sebagai Trainer dan Inspirator dengan menjadi public speaking di berbagai tempat. Mulai dari kampong halamannya Sijunjung, Kota Sawahlunto, Padang, Pekanbaru, Lombok, Jakarta dan kota-kota lainnya. Dia bertekad berperan aktif menginspirasi Indonesia dengan lisan dan tulisan.


Rabu, 13 Mei 2015

Teori Belajar Humanisme



Teori Belajar Pendekatan Humanisme
Teori belajar adalah seperangkat pernyataan umum yang digunakan untuk menjelaskan kenyataan mengenai belajar. Aplikasi teori belajar dalam situasi pembelajaran membutuhkan kejelian dan kecermatan guru untuk menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam teori belajar.
Konsep teori belajar Humanistik yaitu proses memanusiakan manusia, dimana seorang individu diharapkan dapat mengaktualisasikan diri artinya manusia dapat menggali kemampuannya sendiri untuk diterapkan dalam lingkungan. Proses belajar Humanistik memusatkan perhatian kepada diri peserta didik sehingga menitikberatkan kepada kebebasan individu. Teori Humanistik menekankan kognitif dan afektif memengaruhi proses. Kognitif adalah aspek penguasaan ilmu pengetahuan sedangkan afektif adalah aspek sikap yang keduanya perlu dikembangkan dalam membangun individu. Belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Hal yang penting lagi pada proses pembelajaran Humanisme harus adanya motivasi yang diberikan agar peserta didik dapat terus menjalani pembelajaran dengan baik. Motivasi dapat berasal dari dalam yaitu berasal dari diri sendiri, maupun dari guru sebagai fasilitator.

A.     Ciri-ciri Teori Humanisme
Pendekatan humanisme dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika siswa memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Ada salah satu ide penting dalam teori belajar humanisme yaitu siswa harusmampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa mengetahui apa yang dipelajarinya serta tahu seberapa besar siswa tersebut dapat memahaminya. Dan juga siswa dapat mengetahui mana, kapan, dan bagaimana mereka akan belajar. Dengan demikian maka siswa diharapkan mendapat manfaat dan kegunaan dari hasil belajar bagi dirinya sendiri. Aliran humanisme memandang belajar sebagai sebuah proses yang terjadi dalam individu yang meliputi bagian/domain yang ada yaitu dapat meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dengan kata lain, pendekatan humanisme menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap siswa. Untuk itu, metode pembelajaran humanistik mengarah pada upaya untuk mengasah nilai-nilai kemanusiaan siswa. Sehingga para pendidik/guru diharapkan dalam pembelajaran lebih menekankan nilai-nilai kerjasama, saling membantu, dan menguntungkan, kejujuran dan kreativitas untuk diaplikasikan dalam proses pembelajaran sehingga menghasilkan suatu proses pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tujuan dan hasil belajar yang dicapai siswa.
B.     Tokoh Humanisme
Ada beberapa pendapat para ahli mengenai teori belajar huamanisme yaitu diantaranya :
1. Arthur Combs (1912-1999)
Arthur Combs bersama dengan Donald Syngg menyatakan bahwa belajar terjadi apabila mempunyai arti bagi individu tersebut. Artinya bahwa dalam kegiatan pembelajaran guru tidak boleh memaksakan materi yang tidak disukai oleh siswa. Sehingga siswa belajar sesuai dengan apa yang diinginkan tanpa adanya paksaan sedikit pun. Sebenarnya hal tersebut terjadi tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesautu yang tidak akan memberikan kepuasan bagi dirinya.
Sehingga guru harus lebih memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa diri siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
2. Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal: suatu usaha yang positif untuk berkembang; kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri.
Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.
3. Carl Roger
Seorang psikolog humanism yang menekankan perlunya sikap salaing menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalahkehidupannya. Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran.
Ada beberapa Asumsi dasar teori Rogers adalah: Kecenderungan formatif; Segala hal di dunia baik organik maupun non-organik tersusun dari hal-hal yang lebih kecil; Kecenderungan aktualisasi; Kecenderungan setiap makhluk hidup untuk bergerak menuju ke kesempurnaan atau pemenuhan potensial dirinya. Tiap individual mempunyai kekuatan yang kreatif untuk menyelesaikan masalahnya.

C.     Aplikasi dan Implikasi Humanisme

Implikasi Teori Belajar Humanistik
a. Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa (petunjuk):
1.      Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2.      Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3.      Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4.      Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5.      Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6.      Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7.      Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8.      Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa


Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. 
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. 
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1.      Merumuskan tujuan belajar yang jelas
2.      Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
3.      Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
4.      Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
5.      Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
6.      Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7.      Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
8.      Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa 
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. 
Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
D.     Kelebihan dan kekurangan Teori Humanistik
a)      Kelebihan :
·         Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
·         Siswa merasa senang, berinisiatif dalam belajar.
·         Guru menerima siswa apa adanya,memahami jalan pikiran siswa.
·         Siswa mempunyai banyak pengalaman yang berarti.
·         Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri; membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
·         Indikator dari keberhasilan aplikasi ini ialah siswa merasa senang dan bergairah.
·         Terjadinya perubahan pola pikir.
·         Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara tanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang-orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin, atau etika yang berlaku.
·         Siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisai diri dengan sebaik-baiknya.

b)      Kekurangan :
·         Bersifat individual.
·         Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung.
·         Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis.
·         Peserta didik kesulitan dalam mengenal diri dan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.
·         Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar.
·         Siswa tidak aktif dan malas belajar akan merugikan diri sendiri dalam proses belajar.
·         Peran guru dalam proses pembentukan dan pendewasaan kepribadian siswa menjadi berkurang.
·         Keberhasilan proses belajar lebih banyak ditentukan oleh siswa itu sendiri.

Teori Belajar Konstruktivisme



TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME

Belajar menurut  konstruktivisme adalah suatu proses mengasimilasikan dan mengkaitkan pengalaman atau pelajaran yang dipelajari dengan pngertian yang sudah dimilikinya, sehingga pengetahuannya dapat dikembangkan.
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Menurut teori ini, satu prinsip yang mendasar adalah guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, namun siswa juga harus berperan aktif membangun sendiri pengetahuan di dalam memorinya. Dalam hal ini, guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan membri kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide – ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan siswa anak tangga yang membawasiswa ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri yang mereka tulis dengan bahasa dan kata – kata mereka sendiri.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan, bahwa makna belajar menurut konstruktivisme adalah aktivitas yang aktif, dimana peserta didik membina sendiri pengtahuannya, mencari arti dari apa yang mereka pelajari dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dan dimilikinya (Shymansky, 1992).
Dalam mengkonstruksi pengetahuan tersebut peserta didik diharuskan mempunyai dasar bagaimana membuat hipotesis dan mempunyai kemampuan untuk mengujinya, menyelesaikan persoalan, mencari jawaban dari persoalan yang ditemuinya, mengadakan renungan, mengekspresikan ide dan gagasan sehingga diperoleh konstruksi yang baru.
Menurut pendekatan konstruktivistik, pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai kunstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru.
Pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang yang telah mempunyai pengetahuan kepada pikiran orang lain yang belum memiliki pengetahuan tersebut. Bila guru bermaksud untuk mentransfer konsep, ide, dan pengetahuannya tentang sesuatu kepada siswa, pentransfer itu akan diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh siswa sendiri melalui pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri. 
Tujuan dan Karakteristik Teori Konstruktivisme
Tujuan teori konstruktivisme adalah:
·         Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
·         Membantu siswa untuk mengembangkan perngertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
·         Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
Karakteristik pembelajaran konstruktivisme adalah:
·         Memberi peluang kepada pembelajar untuk membina pengetahuan baru melalu keterlibatannya dalam dunia sebenarnya.
·         Mendorong ide-ide pembelajar sebagai panduan merancang pengetahuan.
·         Mendukung pembelajaran secara kooperatif.
·         Mendorong dan menerima usaha dan hasil yang diperoleh pembelajar.
·         Mendorong pembelajar untuk bertanya atau berdialog dengan guru.
·         Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran
·         Mendorong proses inkuiri pembelajar melalui kajian dan eksperimen.

Tokoh-tokoh Teori Belajar Konstruktivisme
Driver dan Bell
Driver dan Bell mengajukan karakteristik sebagai berikut :
·         siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan,
·         belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa,
·         pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal,
·         pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas,
·         kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.


J.J. Piaget
Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa jugaa disebut tahap perkembagan mental, sebagai berikut :
·         perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama,
·         tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual,
·         gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).

Vigotsky
Teori Vigotsky Konstruktivisme menurut pandangan Vygotsky menekankan pada pengaruh budaya.Vygotsky berpendapat fungsi mental yang lebih tinggi bergerak antara inter-psikologi (interpsychological) melalui interaksi sosial dan intra-psikologi (intrapsychological) dalam benaknya.Internalisasi dipandang sebagai transformasi dari kegiatan eksternal ke internal.Ini terjadi pada individu bergerak antara inter-psikologi (antar orang) dan intra-psikologi (dalam diri individu).
Berkaitan dengan perkembangan intelektual siswa, Vygotsky mengemukakan dua ide; Pertama, bahwa perkembangan intelektual siswa dapat dipahami hanya dalam konteks budaya dan sejarah pengalaman siswa (van der Veer dan Valsiner dalam Slavin, 2000), Kedua, Vygotsky mempercayai bahwa perkembangan intelektual bergantung pada sistem tanda (sign system) setiap individu selalu berkembang (Ratner dalam Slavin, 2000: 43). Sistem tanda adalah simbol-simbol yang secara budaya diciptakan untuk membantu seseorang berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah, misalnya budaya bahasa, sistem tulisan, dan sistem perhitungan.
Berkaitan dengan pembelajaran, Vygotsky mengemukakan empat prinsip seperti yang dikutip oleh (Slavin, 2000: 256) yaitu:
(1)        pembelajaran sosial (social leaning). Pendekatan pembelajaran yang dipandang sesuai adalah pembelajaran kooperatif. Vygotsky menyatakan bahwa siswa belajar melalui interaksi bersama dengan orang dewasa atau teman yang lebih cakap;
(2)        ZPD (zone of proximal development). Bahwa siswa akan dapat mempelajari konsep-konsep dengan baik jika berada dalam ZPD. Siswa bekerja dalam ZPD jika siswa tidak dapat memecahkan masalah sendiri, tetapi dapat memecahkan masalah itu setelah mendapat bantuan orang dewasa atau temannya (peer); Bantuan atau support dimaksud agar si anak mampu untuk mengerjakan tugas-tugas atau soal-soal yang lebih tinggi tingkat kerumitannya dari pada tingkat perkembangan kognitif si anak.
(3)        Masa Magang Kognitif (cognitif apprenticeship). Suatu proses yang menjadikan siswa sedikit demi sedikit memperoleh kecakapan intelektual melalui interaksi dengan orang yang lebih ahli, orang dewasa, atau teman yang lebih pandai;
(4)        Pembelajaran Termediasi (mediated learning). Vygostky menekankan pada scaffolding.Siswa diberi masalah yang kompleks, sulit, dan realistik, dan kemudian diberi bantuan secukupnya dalam memecahkan masalah siswa.
Inti teori Vigotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurut teori Vigotsky, fungsi kognitif manusia berasal dari interaksi social masing-masing individu dalam konteks budaya. Vigotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka.
Ratumanan (2004:45) mengemukakan bahwa karya Vygotsky didasarkan pada dua ide utama. Pertama, perkembangan intelektual dapat dipahami hanya bila ditinjau dari konteks historis dan budaya pengalaman anak. Kedua, perkembangan bergantung pada sistem-sistem isyarat mengacu pada simbol-simbol yang diciptakan oleh budaya untuk membantu orang berfikir, berkomunikasi dan memecahkan masalah, dengan demikian perkembangan kognitif anak mensyaratkan sistem komunikasi budaya dan belajar menggunakan sistem-sistem ini untuk menyesuaikan proses-proses berfikir diri sendiri.
Menurut Slavin (Ratumanan, 2004:49) ada dua implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan. Pertama, dikehendakinya setting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar kelompok-kelompok siswa dengan kemampuan yang berbeda, sehingga siswa dapat berinteraksi dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam daerah pengembangan terdekat/proksimal masing-masing. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran menekankan perancahan (scaffolding). Dengan scaffolding, semakin lama siswa semakin dapat mengambil tanggungjawab untuk pembelajarannya sendiri.
a.       Pengelolaan pembelajaran
Interaksi sosial individu dengan lingkungannya sengat mempengaruhi perkembanganbelajar seseorang, sehingga perkemkembangan sifat-sifat dan jenis manusia akan dipengaruhi oleh kedua unsur tersebut. Menurut Vygotsky dalam Slavin (2000), peserta didik melaksanakan aktivitas belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sejawat yang mempunyai kemampuan lebih. Interaksi sosial ini memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual peserta didik.

b.      Pemberian bimbingan
Menurut Vygotsky, tujuan belajar akan tercapai dengan belajar menyelesaikan tugas-tugas yang belum dipelajari tetapi tugas-tugas tersebut masih berada dalam daerah perkembangan terdekat mereka (Wersch,1985), yaitu tugas-tugas yang terletak di atas peringkat perkembangannya. Menurut Vygotsky, pada saat peserta didik melaksanakan aktivitas di dalam daerah perkembangan terdekat mereka, tugas yang tidak dapat diselesaikan sendiri akan dapat mereka selesaikan dengan bimbingan atau bantuan orang lain
Tasker
Tasker Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima
Wheatley
Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.
Hanbury
Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, (3) strategi siswa lebih bernilai, dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Konstruktivistik
Kelebihan :
1)          Pembelajaran konstruktivistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri.
2)          Pembelajaran konstruktivistik memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
3)          Pembelajaran konstruktivistik memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasan pada saat yang tepat.
4)          Pembelajaran konstruktivistik memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks.
5)          Pembelajaran konstruktivistik mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
6)          Pembelajaran konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.
Kelemahan :
1)                  Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ahli sehingga menyebabkan miskonsepsi.
2)                  Konstruktivistik menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda.
3)                  Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreativitas siswa.

Implikasi Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
Dikatakan juga bahwa pembelajaran yang memenuhi metode konstruktivis hendaknya memenuhi beberapa prinsip, yaitu: a) menyediakan pengalaman belajar yang menjadikan peserta didik dapat melakukan konstruksi pengetahuan; b) pembelajaran dilaksanakan dengan mengkaitkan kepada kehidupan nyata; c) pembelajaran dilakukan dengan mengkaitkan kepada kenyataan yang sesuai; d) memotivasi peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran; e) pembelajaran dilaksanakan dengan menyesuaikan kepada kehidupan social peserta didik; f) pembelajaran menggunakan barbagia sarana; g) melibatkan peringkat emosional peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan peserta didik (Knuth & Cunningham,1996).


Karakter Manusia Masa Depan yang Diharapkan
·         Beberapa aspek tentang masalah kualitas manusia dalam pembangunan, yaitu sebagai berikut:
Ø  Aspek fisik, yang berupa tingkat kesehatan tubuh dan kelengkapan anggota tubuh.
Ø  Aspek kognitif, dalam hal ini tingkat kecerdasan dan pendidikan.
Ø  Aspek nonkognitif, yaitu kualitas kepribadian dan kualitas moral yang ada pada diri seseorang.
·         Beberapa sifat kepribadian yang harus dibina dalam menghadapi era industrialisasi yaitu sebagai berikut :
1)      Sifat-sifat inovatif
2)      Dorongan berprestasi
3)      Dorongan afiliasi
4)      Hemat
5)      Moralitas yang baik
6)      Memiliki tingkat kesehatan fisik yang baik
7)      Pendidikan yang memadai
·         Koentjaraningrat mengajukan beberapa cara agar sifat kepribadian yang sudah diuraikan diatas dapat tercipta, yaitu :
1)      Memberi contoh yang baik
2)      Memberi perangsang-perangsang yang cocok
3)      Dengan persuasi dan penerangan
4)      Dengan pembinaan dan pengasuhan suatu generasi baru sejak kecil
·         Berikut ini adalah cara-cara untuk menumbuhkan sifat-sifat yang diperlukan di dalam usaha memajukan pembangunan
1)      Membentuk sifat inovatif
2)      Membentuk dorongan berprestasi
3)      Sarana komunikasi
4)      Memberikan ajaran agama
5)      Sifat hemat
6)      Kedisiplinan
7)      Membentuk dorongan afiliasi